|
"Pokoknya aku mau yang itu, huuu.." jerit si kecil sambil menggelosor di lantai toko. Apa yang mesti kita perbuat
jika ia ngambek seperti itu?
Serba salah. Mungkin itu perasaan Anda ketika tiba-tiba si kecil ngadat, menjerit-jerit sambil bergulingan
di lantai supermarket gara-gara permintaannya tak dipenuhi. Mencubitinya membuat ia makin keras menjerit,
dibujuk pun tak mempan. Sementara perasaan Anda makin tak enak karena mata pengunjung semua tertuju ke Anda.
Bisa jadi dalam perasaan Anda, orang menganggap Anda tak becus mengurus anak. Daripada ribut, akhirnya Anda
pun mengalah, meluluskan permintaan si kecil.
Menurut psikolog anak, Dr. Seto Mulyadi, orangtua tak perlu malu bila anaknya tiba-tiba bertingkah tak
menyenangkan di depan umum. Toh, orang lain pun tahu kalau ini bukan masalah orangtua, tapi masalah anak-anak.
"Justru yang perlu diupayakan adalah menenangkan si anak agar tak lebih lama mengganggu ketenangan umum.
Dengan tegas, angkatlah ia dan ajak pulang. Pengalaman saya, tatap mata anak dan ajak ia pulang. Jangan tatap
anak dengan kesal atau memelototinya, ia akan tahu itu dan akan makin keras mengamuk," terang Doktor Psikologi
lulusan Program Pasca Sarjana UI ini.
Kata Seto, lebih baik tatap mata si anak dengan penuh kasih. Ia akan mengerti, ibu atau ayahnya tetap menyayanginya
dan permintaannya bisa dibicarakan di rumah.
JADI SENJATA
Yang jelas, wajar jika anak kecil gampang meledak atau ngambek. Terlebih anak usia di atas 2 tahun. Saat itu ia
sudah dapat mengekspresikan kemarahan, kekecewaan, atau kecemasannya. "Untuk anak yang berusia di bawah 2 tahun,
sangat gampang mengalihkannya. Misalnya saat ia ngambek, kita tunjukkan cicak di dinding. Atau tunjukkan ia gambar,"
bilang Seto.
Lain hal dengan anak usia 2 tahun di mana egonya mulai tumbuh. Ia ingin orang lain mengakui keberadaannya.
Dengan cara diam, tak mau berpartisipasi atau berguling- guling, ia ingin orang lain mengerti akan kehadiran
"aku"-nya yang baru. Ia pun sangat mementingkan diri sendiri. Apa yang diinginkannya, harus dituruti segera,
saat itu juga.
Celakanya, jika perilaku tak baik ini tak ditanggulangi dengan baik, maka akan terus berkembang hingga dewasa.
"Itu sebabnya ngambek harus diwaspadai sebagai cikal-bakal berbagai tingkah negatif setelah dewasa kelak. Bisa
saja kalau keinginannya tak terpenuhi, lantas minggat dari rumah," jelas Seto.
Apalagi, anak belajar dari lingkungan. Ia akan belajar bagaimana lingkungan meresponnya. Kalau ia ngambek lalu
orangtuanya menuruti kehendaknya, maka ngambek akan dijadikan senjata untuk menarik perhatian "kekuasaan" atau
orangtua. Dan tingkat ngambeknya juga akan terus meningkat.
Beda jika ia ngambek, masalahnya dicoba dipecahkan. Alhasil, ia tak bisa menggunakan hal itu sebagai senjata.
Dengan demikian, jika ia menginginkan sesuatu, ia tak akan ngambek, tapi mengacu pada sistem.
UNGKAPAN PROTES
Yang biasanya terjadi, anak ngambek untuk mengungkapkan protesnya atas kesewenangan orangtua. Terutama pada keluarga
yang komunikasinya kurang efektif. Entah karena ayah-ibu yang terlalu sibuk sehingga perhatian pada si kecil
sangat kurang, atau karena orangtua terlalu otoriter dan mau menang sendiri. Orangtua selalu memaksakan kehendaknya,
sehingga tak pernah mendengar hati nurani anak. "Nah, anak akan merasa diperlakukan tak adil!" tukas Seto.
Misalnya saja, pada saat anak minta mainan, orangtua langsung bilang, "Tidak! Mainan kamu sudah terlalu banyak!"
Padahal mungkin saja mainan yang banyak itu dibeli atas inisiatif orangtuanya yang saat membeli, suasana hatinya
sedang senang, uang lagi banyak. Padahal, bisa saja si anak sebenarnya sedang tak butuh mainan. Nah, giliran ia
memerlukan, justru orangtua berkata tidak. Anak pun merasa diperlakukan tak adil. Semuanya hanya dilihat dari sudut
pandang orangtua, tak melalui suatu dialog yang demokratis. Akibatnya, anak frustrasi dan perasaan itu dilampiaskannya
dengan cara ngambek.
METODE ANTI KALAH
Harus bagaimanakah kita bersikap? Yang jelas, kita mesti lebih membuka diri, sehingga anak dapat melampiaskan
keinginan-keinginannya secara wajar. "Jadilah pendengar yang baik," anjur Seto. Saat kumpul bersama keluarga,
misalnya, ayah dan ibu harus mau mendengar dan menerima permintaan atau keluhan-keluhan anak.
Jika anak minta dibelikan buku dan stiker, misalnya, tanyakan padanya, apakah itu sebuah kebutuhan atau keinginan.
"Mana yang paling perlu? Buku atau stiker?" Anak pun akhirnya belajar, mana yang penting dan tidak. Kalaupun ia
ingin protes, boleh-boleh saja, sepanjang diwujudkan dalam bentuk kata-kata dan bukan tingkah laku ngambek atau
membanting pintu.
Tak ada salahnya anak ikut tahu kondisi keuangan ayah dan ibunya sehingga ia tahu persis, orangtua belum bisa
memenuhi keinginannya. "Jadi, semuanya harus melalui dialog atau komunikasi," tandas Seto.
Cara lain untuk mengendalikan anak ngambek, adalah metoda "anti-kalah" atau musyawarah dalam keluarga. "Tak ada
yang kalah atau menang." Lagi-lagi, dengan cara membuka dialog. Misalnya, "Yuk, kita bicarakan hal ini di rumah.
Apa yang kamu mau, akan kita bicarakan dulu. Kalau memang diputuskan untuk dibeli, kita bisa kembali lagi besok."
Alhasil, titik temu yang memuaskan kedua belah pihak pun didapat. "Anak juga sekaligus belajar bahwa ia tak
akan berhasil memenuhi keinginannya dengan cara ngambek," kata Seto yang pada 1987 meraih penghargaan Orang
Muda Berkarya Indonesia.
TENANG DAN KONSISTEN
Seto mengakui, memang bukan pekerjaan mudah mengajak bicara anak kecil yang tengah ngadat. Ia akan melawan,
bersikukuh, alias mau menang sendiri. "Makanya, hadapi ia dengan sikap tenang. Kalau kita tampak panik, malu,
atau marah-marah, anak malah jadi tambah bertingkah. Tenang, senyum, dan perlihatkan kita tetap menghargainya.
Nah, biasanya ngambeknya akan sedikit lumer," papar anggota Creative Education Foundation ini.
Orangtua, lanjut Seto, bisa berujar, "Ibu tahu kamu kecewa, sedih. Sekarang kita pulang dulu, yuk! Nanti kita
bicarakan di rumah. Ibu mau dengar apa maumu." Lewat ucapan seperti itu, anak tahu, kita mengerti akan kemarahan
atau kekecewaannya dan kita bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. "Anak juga akan sadar, ia boleh marah
tapi cara marahnya harus baik. Tidak dengan berguling-guling di depan umum. Dari situ ia akan merasa dihargai,"
lanjut anggota World Council for Gifted & Talented Children ini.
Di sisi lain, anak juga menjadi paham, ayah atau ibunya sudah berubah. Yang biasanya marah-marah, sekarang tak
begitu lagi. "Tentunya orangtua harus konsisten dengan ucapannya. Tiba di rumah, ia harus mau mendengarkan
keluhan-keluhan anak dan sama-sama mencari pemecahannya," kata Seto.
BIKIN "PERJANJIAN"
Sikap pasif orangtua saat anaknya ngambek dengan cara membiarkan atau meninggalkan anak, tak terlalu disetujui
pakar psikologi anak ini. "Ada, kan, orangtua yang begitu. Anaknya dibiarkan dengan harapan kemarahan anak akan
reda dengan sendirinya. Padahal, justru sikap seperti itu bisa membuat anak makin kecewa dan frustrasi. Bisa saja
ngambeknya kemudian dialihkan di rumah karena masalah utamanya tak diselesaikan," tutur anggota International
Council of Psychologists ini.
Padahal, tutur Seto lebih jauh, tak ada salahnya orangtua bersikap sedikit "merendah" dalam arti mau mendengarkan
anak. Sebaliknya, orangtua pun harus berani mengungkapkan segala perasannya secara jujur. Kalau ingin marah, ya,
kemukakan saja. Misalnya, "Ibu marah, lo, kalau kamu bersikap begini. Ibu kecewa."
Jika anak tetap sajangambek, berarti masih ada kebutuhan yang tak terpenuhi. Bisa saja orangtua belum sadar
tentang hak-hak anak. Hak untuk bermain, berpartisipasi, dan didengarkan oleh lingkungannya. "Tidak jadi robot
terus!" tukas Seto. Jika ia tak mendapat hak-hak tadi, "Anak akan mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya,"
tandas peraih penghargaan The Golden Baloon Award, New York ini.
Selain itu, Seto juga menyarankan agar para orangtua bisa mengantisipasi peristiwa-peristiwa yang rawan konflik.
Misalnya, kalau kemungkinan ia akan ngadat saat diajak ke mal, persiapkan sebelumnya. "Mama mau ajak kamu ke mal,
tapi janji, hanya boleh minta satu barang saja. Kamu nanti mau minta apa? Stiker atau boneka? Pilih salah satu,
tidak boleh lebih dari itu." Nah, karena si kecil dilibatkan dalam perencanaannya, ia pun biasanya akan menepati
janji karena merasa dirinya dihargai.
Bisa juga ditambahkan dalam "perjanjian" itu, apa sanksinya jika si kecil ingkar janji. Misalnya, pada kepergian
berikut, ia tak boleh ikut lagi.
HUKUMAN DAN PUJIAN
Dengan menegakkan demokrasi di rumah, anak akan terhindar dari rasa frustrasi. Sebab itulah, sejak anak bisa
diajak bicara, sebaiknya biasakan diajak bicara. Anak pun akan merasa dihargai. "Kalau ia biasa dihargai, dipercaya,
dan egonya diakui, maka ia akan lebih percaya diri dan tidak mudah ngambek," kata Seto.
Perlukah hukuman diberlakukan dalam hal ini? "Bisa saja, tapi bukan dalam bentuk pukulan atau cubitan. Melainkan
dalam bentuk tak dipenuhinya keinginan itu. Biasanya ibu senyum, kok, kali ini tidak dan mukanya datar. Itu saja
bagi anak yang peka sudah berarti hukuman," jelas Seto.
Namun, jangan lupa pula memberinya pujian jika ia berkelakuan baik dan dapat menghilangkan sifat ngambeknya.
Sumber : tabloid-nakita.com
|