"Eh, sekarang si Wanda punya handphone baru, lo. Keren banget. Ada tevenya!"
"Tahu enggak, Shinta, juara kelas kita, kepergok guru nyontek pas ujian."
"Kata si Dodi, Nina dapet hadiah mobil saat ulang tahun."
Gosip apa lagi nih? Ya, anak usia sekolah juga sudah pandai bergosip! Seperti dijelaskan Mira D. Amir, Psi.,
kemampuan ini umumnya dimiliki anak 10 tahun ke atas. Mulai usia ini, kemampuan verbal anak sudah berkembang baik,
sehingga dia bisa bersahut-sahutan saat bergosip dengan temannya. "Namun, bukan berarti anak di bawah 10 tahun
tidak dapat menjadi tukang gosip. Bisa saja, karena kemampuan verbal berbeda pada setiap anak."
Di usia ini juga, kemampuan kognitif anak sudah matang. Dia sudah menyadari pentingnya orang lain di luar dirinya.
Pembicaraan tentang orang-orang di sekitarnya pun menjadi topik menarik. Apalagi di usia ini, anak mulai memasuki
masa pubertas, dimana dia sudah tertarik kepada lawan jenisnya. Dan, membicarakan lawan jenis menjadi topik favorit,
disamping topik-topik favorit lainnya seperti benda terbaru milik teman, internet, hobi, anak baru di sekolah, guru
galak, dan semua topik yang bersinggungan dengan dunia anak lainnya.
Mira mengakui, tidak semua anak berbakat menjadi tukang gosip. Ada beberapa hal yang memengaruhinya, di antaranya
adalah karakter. Ada kan anak yang ceriwisnya bukan main, obrolannya meriah bahkan kalau sudah bicara sulit dihentikan?
Anak tipe inilah yang berbakat menjadi ratu atau raja gosip. Sebaliknya, ada pula anak-anak pendiam, yang berbicara
atau menimpali seadanya. Tipe ini kemungkinan kecil menjadi biang gosip dan lebih cocok menjadi pendengar.
Jangan lupakan juga pengaruh lingkungan, khususnya keluarga. Ibu yang senang kumpul-kumpul, senang bergosip, menjadikan
infotaintment sebagai tayangan favorit, akan mencetak anak-anak yang senang bergunjing pula. Buah apel tak akan jatuh
jauh dari pohonnya, pepatahnya begitu, kan?
Meski identik dengan kaum hawa, kalangan laki-laki pun berpotensi menjadi biang gosip. "Kembali kepada karakter dan
pola asuh dari lingkungannya," ujar psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI) ini.
AGAR TAK JADI NEGATIF
Meski dapat bernilai positif, orangtua tetap harus mengarahkan anak jangan sampai topik gosip menyerempet hal-hal
negatif, yaitu menceritakan keburukan dan kekurangan orang lain. "Inilah yang perlu dihindari anak dan diwaspadai
orangtua!" tegas Mira.
Orangtua harus memberikan rambu-rambu, tidak baik menggunjingkankan hal negatif orang lain. Jika faktanya keliru,
bisa menjadi masalah besar, karena apa yang kita obrolkan adalah fitnah. Bisa dibayangkan apa jadinya orang yang
terkena fitnah tersebut. Misal, si A dituduh mencuri padahal kenyataannya tidak. Itu bisa membuat nama baik si
A hancur dan dijauhi teman-temannya. Jikapun faktanya ada, bukan berarti kita dengan bebas menceritakannya kepada
orang lain. Tumbuhkan empati anak. Tanyakan kepada anak, bagaimana seandainya si anak sendiri yang digosipkan?
Bagaimana kalau hal-hal buruk anak diketahui banyak orang? Tidak mau kan? Karena itu, hal yang sama juga harus
dilakukannya kepada orang lain.
Jangan lupa, orangtua juga harus berhati-hati dengan apa yang diucapkan. Bila anak mendengar, dia akan menganggap
kata-kata yang terlontar dari orangtuanya itu, yang mungkin saja kurang atau malah tidak baik, merupakan hal wajar.
Bicarakanlah hal-hal yang positif mengenai orang lain dan hindari membicarakan hal yang negatif, terutama bila
berada di dekat orangtua.
Ubah juga gaya komunikasi anak saat bergosip. Jangan sekali-kali melebih-lebihkan cerita. Sikap hiperbolik akan
membuat teman-temannya jengah, utamanya saat mereka sudah tahu cerita sebenarnya. Selanjutnya, anak bisa dicap
pembohong dan mereka enggan mendengar semua ceritanya lagi. Anak juga dapat kehilangan teman-temannya, karena
dianggap menyebarkan berita yang tidak benar. Pilih juga kata-kata yang tepat, agar orang lain yang menjadi sasaran
tembak tidak tersinggung. "Secara tidak langsung, itu semua juga mengajari anak kecakapan berbahasa, memilih
kata-kata, intonasi, dan sebagainya," kata Mira. Jangan segan untuk mengoreksi pembicaraan anak. Tentu itu dilakukan
setelah teman-temannya tidak ada, sehingga tak menjatuhkan harga diri anak.
Jelaskan juga, agar anak memilih waktu dan tempat yang tepat untuk bicara. Jangan sampai dilakukan saat belajar,
mendengarkan ceramah, atau situasi lain yang tidak tepat. Ajarkan pula untuk mencari fakta sebenarnya. Jika kebetulan
anak mendengar gosip negatif tentang temannya, tak ada salahnya mencari tahu fakta sebenarnya. Ini mengajari anak
supaya tidak cepat percaya dengan berita negatif yang beredar dan menjelek-jelekkan seseorang. Jika tahu fakta
sebenarnya, anak bisa melakukan klarifikasi tentang berita miring tersebut, ternyata teman tersebut tak seburuk
yang digosipkan.
Itu juga berlaku saat anak menjadi korban gosip negatif dari teman-temannya. Dia bisa meluruskan berita yang tidak
benar tersebut. Jika sudah mengganggu seperti membuat anak mogok sekolah, maka bantuan guru dan orangtua dapat saja
diperlukan.
POSITIF JIKA....
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gosip bermakna obrolan tentang orang lain. Artinya, semua topik di luar
diri anak, termasuk gosip. Mira menjelaskan, selama topik yang dibahas positif, maka bergosip ria tidaklah menimbulkan
dampak negatif, bahkan dapat mengasah beberapa keterampilan anak. Salah satunya, keterampilan berbahasa. Anak dapat
mengembangkan kemampuan bahasa, menyusun kalimat sehingga mudah dimengerti orang lain. Kosakatanya pun semakin hari
semakin kaya.
Bergosip juga dapat menumbuhkan kepekaan sosial. Misal, si A dan kawan-kawan menceritakan temannya yang dirawat di
klinik karena terjatuh dari sepeda. Jika diarahkan dengan baik, perbincangan itu akan memupuk empati anak. Bukan tak
mungkin dia dan teman-temannya urunan untuk menyumbang temannya tersebut.
Atau, saat salah satu temannya dikabarkan meraih prestasi, lalu menjadi topik perbincangan menarik di kalangan teman-teman.
Itu dapat memotivasi anak untuk memiliki prestasi yang sama. Siapa sih yang tak ingin terkenal dan menjadi golongan
orang-orang populer di sekolah?
Sumber :
tabloid-nakita.com