|
Kebun adalah surga bermain bagi anak. Matanya langsung “hijau” melihat
daun dan bunga-bungaan yang bisa dipetik.
Kalau dibiarkan, tangan-tangan mungilnya pasti ikut mencungkil-cungkil tanah. Nah, ketertarikan mengacak-acak kebun
sebenarnya bisa dijadikan kegiatan positif anak-orangtua di akhir pekan. Tak jadi masalah kalau di rumah cuma ada
sepetak tanah. Bahkan, pot kecil pun jadilah. Anak bisa diajak menanam dan mengamati proses bertumbuhnya bibit menjadi
pohon.
Aktivitas yang menekankan pengenalan makhluk hidup ini merupakan bagian dari stimulasi kecerdasan naturalis—salah satu aspek dalam multiple intelligences yang dikemukanan Gardner. Di dalamnya terdapat unsur mengenali, mengingat, menganalisis, dan mencintai alam serta lingkungan hidup. Anak yang cerdas naturalis juga akan mudah beradaptasi dengan lingkungan dan merasa bertanggung jawab menjaga kelestarian
alamnya
Dari aktivitas berkebun, ada 3 hal yang dapat orangtua ajarkan kepada anak, yaitu:
- Pengajaran tentang makhluk hidup selain manusia
Orangtua bisa menjelaskan bahwa tumbuh-tumbuhan juga merupakan makhluk hidup. Ia harus diberi makan berupa pupuk dan
diberi minum dengan disiram pagi dan sore. Anak dikenalkan pada berbagai jenis tanaman yang ada: ada tanaman yang bisa
menghasilkan bunga untuk dinikmati keindahannya, ada juga tanaman yang menghasilkan buah yang bisa dimakan seperti
mangga, jambu, dan sebagainya. Kemudian ajari anak mengenai tanah sebagai media tanam yang di dalamnya bisa terdapat
makhluk hidup juga seperti cacing dan hewan kecil lainnya.
- Tanggung jawab terhadap tumbuhan di sekitarnya
Orangtua menanamkan kepekaan naturalis pada anak lewat sikap menyayangi, menjaga, dan merawat tanaman. Ajarkan pula
pada anak pentingnya memelihara lingkungan dengan tidak merusak tanaman dan sebagainya, sehingga terciptalah keharmonisan
antara manusia dan alam. Sederhananya, mintalah anak untuk memilih tanaman favoritnya. Misal, tanaman melati. Kemudian
tanamlah di sebuah pot yang diberi nama dirinya.
Minta anak merawat tanamannya itu dengan menyirami setiap pagi dan sore
hari. Beri tahu pula akibatnya jika tanamannya tidak dirawat baik maka bisa layu dan akhirnya mati. Jadi anak dikenalkan
pada aturan-aturan dalam sense naturalistik tadi. Dengan cara seperti ini anak dilatih memiliki tanggung jawab dan juga
kedekatan dengan alam, sesuai pengalaman yang didapatnya.
Di usia prasekolah, anak yang cerdas naturalis akan lebih tampak jelas ketertarikannya pada aktivitas yang berkaitan
dengan lingkungan alam.
- Tanggung jawab terhadap diri sendiri
Saat melakukan aktivitas berkebun, minta anak untuk mengenakan topi agar tidak kepanasan yang dapat menyebabkannya
pusing, memakai sepatu bot agar kakinya tidak menginjak sesuatu yang membahayakan ataupun menjadi kotor, dan lainnya.
Beri kebebasan dan keleluasaan pada anak untuk melakukan apa pun, tentunya tetap dalam arahan orangtua. Contoh, minta
anak memasukkan tanah ke dalam pot bunganya dan menanam batang pohon melatinya atau menaburkan benih,
kemudian menyiraminya.
Setelah selesai, tanamkan pula pada anak bahwa setelah mereka berkotor-kotor harus membersihkan dirinya. Cuci tangan
pakai sabun, membersihkan kaki serta mengganti pakaian yang dikenakan dengan yang bersih. Jadi, selain mengajarkan
tanggung jawab pada lingkungan, anak juga diajarkan untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Sumber : tabloid-nakita.com
|