Promosi gencar yang dilakukan produsen berbagai produk mainan anak baik elektronik
maupun manual dapat memposisikan anak menjadi konsumen aktif. Tidak hanya itu,
mainan buatan pabrik tersebut membuat kreativitas anak berkurang atau terbatasi.
Bahkan anak bisa lebih bersikap individualis kalau terlalu 'over' bermain dengan
permainan elektronik, contoh nyatanya adalah playstation. Merupakan suatu
hal yang wajar, bila setiap orang tua menyediakan fasilitas mainan pada anak-anaknya.
Karena dunia anak merupakan dunia bermain. Ketika bermain, anak-anak mendapatkan
kesempatan untuk mengembangkan bakat, keterampilan dan pengetahuan. Jenis permainan
dan mainan yang sejak awal diberikan secara tepat pada balita berperan mengembangkan
saraf-saraf motorik yang akan mempengaruhi tingkat intelegensia anak.
Lalu bagaimana wujud dunia bermain anak-anak saat ini? Setidaknya hasil kegiatan
Lomba Menggambar Dolanan Bocah maupun Kumpul Bocah yang diselenggarakan USC-Satu
Nama Yogyakarta di Padukuhan Duwet, Desa Sendangadi, Mlati
(28 September 2003) lalu dapat menjadi gambaran. Di sana terlihat permainan
elektronik dan televisi telah cukup jauh mempengaruhi dunia anak-anak."Dalam kegiatan
ini terkumpul 137 gambar. Ternyata yang mereka gambar mayoritas permainan elektronik
dan tokoh hero dalam film kartun," kata Koordinator Perpustakaan Keliling
USC-Satu Nama Yogyakarta, I Gede Eddy Purwaka.Menurut I Gede Eddy Purwaka, berbagai
jenis permainan anak-anak di zaman sekarang cenderung menjauhkan mereka dari
interaksi sosial. "Tidak mengherankan jika anak-anak sekarang lebih bersikap
individualis dan kurang kreatif," tambahnya.
Butuh Pengawasan
Menghindari anak menjadi konsumen produk mainan memang merupakan hal yang sulit dilakukan.
Apalagi sifat anak yang cenderung meniru sesuatu dari lingkungannya. Banyaknya produk
mainan instan dan elektronik untuk anak-anak diakui Marnio Pudjono memang sudah
membelenggu kreativitas anak. Namun demikian mainan tersebut tidak selalu
menghambat pengembangan kreativitas."Misalnya, tamiya. Sebelum memainkannya anak
harus paham betul teknis cara memasang dan teknis memainkannya. Sehingga secara
langsung mereka juga belajar. Begitu pula memodifikasi jenis permainan tamiya, anak
juga dituntut kreatif, meskipun terbatas," jelas Marnio Pudjono.
Produk mainan yang tidak langsung jadi, misalnya robot rakitan, push block dan puzzel,
menuntut anak untuk berusaha menemukan bentuknya. Ini cukup baik, daripada hanya
membeli produk mainan jadi. Marnio Pudjono pun membenarkan kalau ada yang beranggapan
permainan elektronik memang cenderung membuat anak semakin menjadi individual.
Apalagi kalau sang anak terlalu asyik menghabiskan waktunya untuk memainkan mainan
itu."Di sini peran orangtua sangat penting. Mereka berkewajiban untuk mengawasi
anaknya. Jangan sampai terlalu berlebihan bermain dengan mainannya. Mereka juga harus
mengarahkan anaknya untuk bersosialisasi. Agar proses keseimbangan berjalan baik.
Banyak sekali cara yang bisa ditempuh. Misalnya, mengikutsertakan dalam klub renang,
klub bermain atau kegiatan masjid," jelas Marnio Pudjono lebih lanjut.
Selain itu, orang tua harus jeli dan pandai memilih produk mainan. Karena jenisnya
saat ini banyak sekali. Jenis produk mainan yang baik, sebaiknya dipilihkan yang
bisa merangsang perkembangan intelektualitas anak. Tidak hanya sekedar bagus, mahal
dan baru."Sejauh pengamatan saya, selama ini orang tua banyak yang lupa. Kalau
gerakan motorik anak berpengaruh pada tingkat intelegensi anak. Anak yang gerakan
saraf motoriknya optimal, perkembangan saraf otaknya juga akan optimal. Jangan
lekas melarang balita yang sedang berlari-lari atau memanjat kursi. Selama masih
aman, biarkan saja," kata Marnio Pudjono. Permainan keseimbangan sangat dianjurkan
pada balita dan anak TK. Karena merangsang saraf-saraf keseimbangan. Pakar psikologi
percaya, jika saraf motorik berkembang, saraf keseimbangan juga ikut berkembang.
Sel-sel otak terutama nukleus pestibularis juga berkembang. Tidak dipungkiri
kalau fasilitas untuk hal tersebut memang mahal. "Inilah pentingnya menurut saya
adanya klub bermain yang lengkap. Dapat diupayakan di TK atau play group. Sehingga
orang tua tidak terlalu terbebani. Karena dibeli secara bersama-sama. Sekaligus
dapat belajar bersosialisasi," terang Marnio Pudjono.Dolanan Anak Menengok pada
permainan anak tempo dulu, seperti dolanan anak, Marnio Pudjono rupanya agak
pesimistis bila ada usaha untuk memunculkannya lagi. Karena jenis permainan ini
semakin luntur dimakan jaman, kurang dikenal maupun diminati anak-anak sekarang.
Walaupun dia tidak memungkiri kalau sebenarnya permainan semacam itu memang bagus
untuk memupuk sosialisasi antar anak. "Selain itu anak di era dulu, kalau ingin
punya mainan harus membuat sendiri. Hal ini memang membangkitkan kreativitas
dalam dirinya.
Dibandingkan anak sekarang yang hanya tinggal memilih dan membeli berbagai
macam produk mainan," ujarnya.Namun naif rasanya kalau para orangtua harus
membendung perubahan orientasi dunia bermain anak di masa sekarang. Jalan yang
paling bijak menurut Marnio Pudjono, orangtua harus sering-sering mendampingi
anak. Setidaknya seperti dikatakan I Gede Eddy Purwaka, tetap mendorong anak
supaya mengembangkan kreativitas dan daya pikirnya.
Sumber :
e-psikologi.com
Koran kedaulatan rakyat