Ke Menu Utama

Menu Utama | Pengetahuan Umum | Presiden Indonesia

Biografi Presiden Indonesia

3. Baharudin Jusuf Habibie

Beliau lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, tanggal 25 Juni 1936. Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk Universitas Indonesia di Bandung (Sekarang ITB). Beliau mendapat gelar Diploma dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 yang kemudian mendapatkan gekar Doktor dari tempat yang sama tahun 1965. Beliau menikah tahun 1962, dan dikaruniai dua orang anak. Tahun 1967, beliau menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :

  • VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
  • Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
  • Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
  • Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
  • CN - 235
  • N-250
  • dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:
    · Helikopter BO-105.
    · Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
    · Beberapa proyek rudal dan satelit.

Sebagian Tanda Jasa/Kehormatannya :

  • 1976 - 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
  • 1978 - 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
  • Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi / BPPT
  • 1978 - 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
  • 1978 - 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
  • 1980 - 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
  • 1983 - 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
  • 1988 - 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
  • 1989 - 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
  • 1990 - 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
  • 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
  • 10 Maret - 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
  • 21 Mei 1998 - Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia

4. KH. Abdurrahman Wahid

Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim.

Abdurrahman wahid yang akrab disapa Gus Dur adalah seorang Bapak Bangsa yang sering melontarkan pendapat kontrversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang. Bahkan ketika menjabat Presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999-24 Juli 2001), ia tak gentar menggungkapkan sesuatu yang diyakininya benar kendati banyak orang sulit memahami dan menerimanya bahkan menentangnya.

Pendidikan :

  • Pesantren Tambak Beras, Jombang (1959-1963)
  • Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1964-1966)
  • Fakultas Surat-surat Universitas Bagdad (1966-1970)

Karir

  • Pengajar Pesantren Pengajar dan Dekan Universitas Hasyim Ashari Fakultas Ushuludin (sebuah cabang teologi menyangkut hukum dan filosofi)
  • Ketua Balai Seni Jakarta (1983-1985)
  • Penemu Pesantren Ciganjur (1984-sekarang)
  • Ketua Umum Nahdatul Ulama (1984-1999)
  • Ketua Forum Demokrasi (1990)
  • Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
  • Anggota MPR (1999)
  • Presiden Republik Indonesia (20 Oktober 1999-24 Juli 2001) Penghargaan
  • Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina atas usahanya mengembangkan hubungan antar-agama di Indonesia (1993)
  • Penghargaan Dakwah Islam dari pemerintah Mesir (1991)

Pada tanggal 24 Juli 2001, mandat beliau dicabut oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat karena berbagai sebab.

5. Megawati Soekarnoputri

Sebelum menjadi Presiden RI, beliau menjabat sebagai Wakil Presiden RI yang ke-8. Megawati dilahirkan di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Kelahirannya ditandai dengan suasana yang tidak nyaman : hujan deras, atap rumah yang bocor, guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar, dan tanpa listrik. Proses kelahiran Mega hanya diterangi oleh lampu minyak tanah. Rupanya, suasana saat kelahiran Megawati menjadi semacam pertanda untuk perjalanan hidupnya kemudian. Setelah Presiden Soekarno lengser, Mega dan keluarga mendapat cobaan politik yang tidak kecil: terasing dari dunia ramai.

Ia dan keluarganya hidup dalam kondisi yang tertekan dan penuh cobaan hidup. Saat mengandung anak kedua, suami pertamanya, Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso hilang dalam kecelakaan pesawat Skyvan T-701 yang dipilotinya jatuh di Biak, Irian Jaya tahun 1970. Sampai kini Surindro tidak pernah ditemukan. Tahun 1972 Mega menikah dengan seorang diplomat Mesir -- yang sedang bertugas di Jakarta -- Hassan Gamal Ahmad Hasan. Tetapi perkawinan itu, kemudian dibatalkan. Alasannya, Mega masih terikat perkawinan yang sah dengan Surindro. Karena belum ada kepastian mengenai nasib suaminya pertamanya itu. Soalnya, sampai saat itu Surindro belum ditemukan dan belum bisa dipastikan apakah sudah meninggal atau masih ada. Kemudian baru ada kepastian dari Angkatan Udara bahwa Surindro suaminya telah gugur dalam musibah jatuhnya pesawat itu. Tak lama setelah itu, Mega menikah dengan Taufik Kiemas, seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) asal Sumatera Selatan.

Pendidikan :

  • SD s/d SMA Perguruan Cikini
  • Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967)
  • Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972).

Organisasi :

  • Ketua PDI Cabang Jakarta Pusat (1987-1992)
  • Ketua Umum DPP PDI (1993 - 1998)
  • Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (1998-2003)

Karir :

  • Presiden RI (2001 - 2004)
  • Wakil Presiden RI (1999- 2001)
  • Anggota DPR/MPR RI (1999)
  • Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
Presiden Indonesia selanjutnya

Copyright © PT Bangun Satya Wacana 2005
Jl. Palmerah Barat No 29-31 Jakarta 10270 Indonesia telp: (62-21) 5494333, 5301991 Ext: 3807 Web Master