Hari Sumpah Pemuda
28 Oktober
Tanggal 28 Oktober, 77 tahun yang lalu, merupakan salah satu hari bersejarah di
Indonesia. Adik-adik ada yang tahu hari apakah itu? Ya, benar, itu adalah
hari sumpah pemuda. Mengapa disebut hari sumpah pemuda? Jawabannya karena pada
tanggal 28 Oktober 1928, perwakilan pemuda dari pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi dan
pulau lainnya berkumpul dalam sebuah kongres pemuda ke-2. dan menghasilkan beberapa
sumpah dari kongres itu, di antaranya bersumpah bertanah air satu, tanah air Indonesia.
Makanya hari tersebut disebut hari 'Sumpah Pemuda'. Isi sumpah lainnya adalah
'berbahasa satu, bahasa Indonesia'. Pada saat kongres tersebut hanya sedikit
para pemuda tersebut lancar berbahasa Indonesia, yang paling fasih saat itu hanyalah
Muhammad Yamin.
Karena sangat pentingnya hari tersebut, dibuatlah satu museum yang dikenal dengan
nama museum sumpah pemuda. Nah, berikut sedikit gambaran tentang museum sumpah pemuda.
Beberapa pemuda dan mahasiswa berkumpul di satu ruangan. Enam orang duduk di belakang
meja yang beralaskan kain warna hijau. Di sebelahnya seorang lagi menggesekkan biolanya.
Dan sejarah mengabadikan peristiwa penting ini. Sumpah Pemuda diikrarkan, lagu
Indonesia Raya dikumandangkan. Itulah diorama suasana Kongres Pemuda II yang berada
di Ruang Kongres, satu diantara ruang di dalam Museum Sumpah Pemuda. Ruang ini
memang memiliki daya tarik tersendiri. Seiring dengan ikrar Sumpah Pemuda yang
berkumandang untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu:
Indonesia, tampillah WR Supratman melantunkan lagu Indonesia Raya. Hasil kongres
terpampang di dinding dalam ukuran besar.
Gedung yang resmi menjadi Museum Sumpah Pemuda sejak 1974 ini dulu adalah Gedung
Kramat 106. Menurut sejarahnya, awalnya Gedung Kramat 106 milik Sio Kong Liong.
Periode 1908-1934 gedung tersebut disewa oleh mahasiswa STOVIA yang tergabung dalam
Indonesische Clubgebouw dan digunakan sebagai tempat berbagai aktivitas.
Sebelum tercetusnya Sumpah Pemuda, tercatat di sini lahir organisasi-organisasi
kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatera, Jong Selebes, Jong Islamieten, dan
sebagainya.
Dalam perkembangannya, suasana diskusi dan pertemuan-pertemuan dilakukan
untuk membahas berbagai permasalahan, baik politik, sosial kemasyarakatan dan
sebagainya. Dari rutinitas para mahasiswa dan pemuda inilah yang kemudian
menumbuhkan benih-benih semangat untuk bersatu dengan meninggalkan paham
kedaerahan. Puncaknya tertuang dalam keputusan Kongres Pemuda II yang
berlangsung di Gedung Kramat 106 pada 27-28 Oktober 1928. Keputusan Kongres
Pemuda itu dikenal dengan Sumpah Pemuda.
Gedung Kramat 106 ini kini masih berdiri kokoh. Kehadirannya sebagai Museum
Sumpah Pemuda memberi nuansa tersendiri bagi wisatawan. Suasana tahun
duapuluhan yang penuh dengan gejolak dan semangat terpancar dari tiap sudut ruangan.
Secara keseluruhan Museum ini terbagi menjadi lima ruang. Tiap ruang dihiasi
dengan berbagai koleksi, seperti panji-panji organisasi yang lahir
antara 1915-1930, foto-foto serta patung patung pelaku sejarah Sumpah
Pemuda. Satu diantara ruang museum bernama Ruang Kongres memiliki diorama
yang menggambarkan suasana Kongres Pemuda II. Sebuah monumen Persatuan
Pemuda 1928 bisa Anda lihat di halaman belakang museum.
Mudah-mudahan dengan diperingatinya hari sumpah pemuda setiap tahunnya, bisa
mengingatkan pemuda-pemudi Indonesia untuk selalu bersatu membangun bangsa,
belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjauhkan diri dari
yang namanya NARKOBA.
|