Menu Utama | Cerita Anak | TUKANG SEPATU DAN LILIPUT

Sub Rubrik

Cerita Asli Indonesia
- Aji Saka
- Timun Emas
- Keong Mas
- Lutung Kasarung
- Loro Jonggrang
- Cindelaras
- Telaga Bidadari
- Malin Kundang
- Cincin Sakti
- Manik Angkeran
- Karang Bolong
- Tanjung Menangis
- Sumur Lembusura
- Sungai Jodoh
- Si Dayang Bandir
- Hang Tuah
- Hikayat Bunga Kemuning
- Sangkuriang
- Putri Tandampalik
- Asal Usul Danau Toba
- Asal Usul Kota Banyuwangi
- Calon Arang
Cerita Umum
- Kancil si Pencuri Timun
- Kelelawar Yang Pengecut
- Kera Jadi Raja
- Bende Wasiat
- Si Kancil Kena Batunya
- TIGA SEKAWAN
- Seruling Ajaib
- Paman Alfred dan 3 ekor Rakun
- Mia dan Si Kitty
- Paman Gober dan Ikan Ajaib
- Landi Landak Yang Kesepian
- Bermalam di hutan
- Si Gembala Pembohong
- Singa dan Nyamuk
- Semut dan Kepompong
- Keledai pembawa garam
- Moni, Monyet Yang Licik
- Putri Melati Wangi
Cerita Dari Mancanegara
- Gadis Penjual Korek Api
- Petualangan Tom Sawyer
- Tukang Sepatu Dan Liliput
- Aladin dan Lampu Ajaib
- Balas Budi Burung Bangau
- Alibaba dan 40 Penyamun
- Saudagar Jerami
- Petualangan Guliver
- Cinderela
- Petualangan Sinbad
- Gonbe dan 100 Itik
- Pangeran Katak
- Jack dan Pohon Kacang
- Putri Tidur

 

TUKANG SEPATU DAN LILIPUT

Dahulu kala, disebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, “Kalau sepatu ini terjual, kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.

Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak bersepatu di depan toko mereka. “Kasihan sekali gadis itu ! Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu”. Akhirnya mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada gadis kecil itu.

“Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita”, kata si kakek. Malam tiba, merekapun tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcaci-kurcaci mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke hutan.

Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat. Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari Raya. “Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa”. 

Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat sepatu. “Wow”, pekik si kakek. “Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para kurcaci itu”. “Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian”, lanjut si nenek. “Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih”. Kemudian nenek memotongh kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah selesai mereka menjajarkan sepatu dan aju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga menata meja makan, menyiapkan makanan dan  kue yang lezat di atas meja.

Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu banyaknya makanan dan hadiah  di ruang kerja kakek. “Wow, pakaian yang indah !”. Merek segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek. Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari berikutnya para kurcaci tidak pernah dating kembali.

Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.

 

 

Copyright © Gramacom 2000
Jl. Palmerah Barat No 29-31 Jakarta 10270 Indonesia telp.: (62-21) 5494333, 5301991 Ext.: 1300-1303 Web Master