Lucu juga namanya ya... Teman-teman pernah menonton film “Finding Nemo” ? Film itu mengisahkan
kehidupan seekor anak ikan yang bernama nemo. Nah, si ikan nemo itu dikenal dengan nama ikan
badut. Nama latinnya adalah Amphiprion ocellaris. Ciri khas yang paling menarik dari ikan ini,
yang badannya dihiasi dengan warna-warna cemerlang, adalah tempat hidupnya. Ikan badut hidup
di cabang-cabang karang yang mirip pohon yang disebut sebagai ”anemon laut”. Ada kapsul-kapsul
beracun pada cabang-cabang anemon laut yang akan membuat ikan yang menyentuhnya terluka atau
mati. Namun Ikan badut tidak pernah terluka oleh anemon laut ini. Bahkan mereka bersembunyi
di balik cabang-cabang tersebut yang membuatnya aman dari pemangsa. Ada cairan yang khusus
di badan ikan badut ini yang melindunginya dari ‘gigitan’ kapsul anemon laut.
Menakjubkan bukan? Tidak seperti ikan-ikan lainnya, ikan ini mengeluarkan cairan yang
melindunginya dari racun di sekitar tempat hidupnya. Bagaikan tahu bahwa anemon laut ini
tidak membahayakannya, saat berada dalam bahaya, ia secara cepat bersembunyi di antara
kapsul-kapsul beracun tersebut.
Ikan badut sebenarnya terdiri tidak kurang dari 29 jenis Mereka seluruhnya berpenampilan cantik
dan lucu. Dua puluh delapan jenis ikan badut ini merupakan spesies dari genus Amphiprion, sedangkan
satu jenis merupakan spesies dari genus Premnas. Premnas mempunyai ciri khusus, yaitu berupa “duri”
preoperkularis yang dijumpai di bawah matanya.
Secara umum ikan badut berukuran kecil. Maksimal mereka dapat mencapai ukuran 10 – 15 cm.
Berwarna cerah, tubuh lebar (tinggi), dan dilengkapi dengan mulut yang kecil. Sisiknya relatif
besar dengan sirip dorsal yang unik. Pola warna pada ikan ini sering dijadikan dasar dalam
proses identifikasi mereka , disamping bentuk gigi, kepala dan bentuk tubuh. Variasi warna dapat
terjadi pada spesies yang sama; khususnya berhubungan dengan lokasi hidupnya.
Ikan badut diketahui merupakan ikan yang mempunyai daerah penyebaran relatif luas, terutama di
daerah seputar Indo Pasific. Satu jenis, yaitu A. bicinctus, diketahui merupakan
endemik Laut Merah. Mereka, pada umumnya, dijumpai pada laguna-laguna berbatu di seputar
terumbu karang, atau pada daerah koastal dengan kedalaman kurang dari 50 meter dan berair jernih.
Di perairan Papua New Guinea, bisa ditemukan ikan badut tidak kurang dari 8 spesies.
Di alam, ikan badut mengkonsumsi zooplankton, udang-udangan dan algae yang dijumpai di
habitat mereka.
Ikan badut sering pula melakukan tugas bersih-bersih pada tubuh anemon yaitu dengan memunguti
remah-remah makanan, atau kotoran lainnya sehingga tubuh anemon bisa terbebas dari berbagai
jenis parasit. Sedangkan ikan badut sendiri sering membawakan makanan bagi anemon.
Seperti halnya penghuni laut lainnya, ikan badut sebenarnya tidak memiliki kemampuan untuk
melawan racun dari anemon. Meskipun demikian mereka memilki taktik yang jitu bagaimana mengatasi
racun tersebut. Tentakel anemon dilapisi oleh lendir yang memiliki kandungan tertentu untuk
melindunginya dari sengatan tentakel yang lain atau tersengat oleh tentakel sendiri. Lendir
inilah yang dimanfaatkan oleh ikan badut untuk melindungi badannya dari sengatan tentekal anemon.
Ikan badut dapat bertahan beberapa saat terhadap sengatan tentakel sebelum lumpuh. Dengan cara
menggosok-gosokkan badannya secara cepat pada tentakel ikan badut dapat melumuri seluruh tubuhnya
dengan lendir antisengat tentakel. Dalam waktu satu jam seekor ikan badut akan bisa memenyelimuti
seluruh tubuhnya dengan lendir antisengat tersebut, sehingga pada akhirnya dia akan kebal
sama sekali terhadap sengatan tentakel. Dengan demikian, mereka akhirnya akan aman beramain
dan berada diantara tentakel-tentakel anemon.
Pada malam hari mereka sering tidur dengan berselimutkan tentakel-tentakel tersebut.
Apabila ikan badut dipisahkan dari anemon selama beberapa jam, mereka akan segera kehilangan
kekebalannya. Dan untuk menjadi kebal kembali mereka perlu beradaptasi dan memerlukan waktu
seperti disebutkan diatas.
Setiap jenis ikan badut memiliki kriteria tertentu dalam memilih anemon. Oleh karena itu, pada
jika kamu ingin membeli ikan anemon alangkah baiknya diketahui terlebih dahulu jenis-jenis anemon
yang dikehendaki olah jenis ikan badut yang akan dibeli.
Berbeda dengan jenis ikan lainnya, perilaku kawin ikan badut menunjukkan sifat kebalikan. Apabila
ikan lain, diperlukan beberapa betina untuk satu jantan, pada ikan badut justru satu betina
memiliki beberapa jantan. Ikan badut diketahui bisa berubah kelamin. Selain itu merekapun
memiliki hierarki sosial yang ketat. Dalam satu koloni ikan badut yang hidup dalam anemon, biasanya
terdiri dari satu betina dewasa yang dominan dan beberapa jantan yang berukuran lebih kecil,
serta beberapa ikan badut muda. Ikan-ikan muda ini semua berjenis kelamin jantan.
Apabila si betina mati atau menghilang, jantan dewasa secara biologi akan berganti kelamin menjadi
betina. Perubahan kelamin akan berlangsungan selama dua minggu atau lebih. Kemudian jantan
terbesar dan tertua yang ada dikoloni tersebut akan menjadi pasangannya. Strategi demikian diketahui
mampu mempertahankan kelanjutan keberadaan spesies ikan badut tersebut. Dalam hal ini si
jantan yang ditinggal mati betinanya tidak perlu mencari betina lain jauh-jauh. Seperti diketahui,
di alam, ikan badut tidak bisa meninggalklan anemonnya lebih dari beberapa meter hanya untuk
sekedar mencari betina lain.
Ikan badut dapat menghasilkan telur 300 – 700 butir. Telur tersebut diltekan pada batu-batu dibawah
mantel anemon. Telur tersebut akan dijaga oleh badut jantan hingga menetas. Telur pada umumnya
akan menetas setelah enam atau tujuh hari. Burayak selanjutnya akan “menjadi” planton dan
terbawa arus laut. Setelah 15 hari terapung-apung, makan dan tumbuh, burayak akan berkembang menjadi
badut muda dan siap-siap mencari anemon sebagai rumahnya.
Daftar Istilah :
- Genus/marga = salah satu bentuk pengelompokan dalam klasifikasi makhluk hidup
- Anemon = salah satu tumbuhan laut yang beracun
- Endemik = merupakan spesies asli dari suatu tempat yang berupa wilayah geografis tertentu seperti pulau
- Burayak = anak ikan yang masih kecil-kecil
Sumber :
Harun Yahya.com
Wikipedia