Penyakit demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan
oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti.
Nyamuk umumnya hidup dan berkembang biak ditempat-tempat genangan air. Terutama pada saat musim
hujan, kita harus waspada dan berusaha agar tidak adanya genangan air yang tidak mengalir.
Genangan air tersebut misalnya saja terdapat pada got atau selokan yang airnya tidak mengalir
dikarenakan tersumbat oleh sampah-sampah, ban-ban bekas, kaleng bekas dan masih banyak
lagi tempat yang ditinggali oleh nyamuk.
Data dari
Departemen Kesehatan menunjukkan hingga awal maret 2004, jumlah penderita DBD (Demam
Berdarah Dengue) mendapai 19.150 orang, dengan 338 orang di antaranya meninggal dunia
(sumber: Kompas, 02 maret 2004).
Karenanya mari kita sama-sama mencegah menyebarnya penyakit demam berdarah di daerah kita
masing-masing dengan berbagai cara/penerapan.
Mungkin penerapannya tidak dengan satu metode karena berkaitan dengan budaya
masing-masing. Bantuan sosial dan masalah partisipasi masyarakat sangat berperan. Misalnya
penerapan di kota Purwokerto yang penduduknya sekitar 100 ribu orang, sejak tahun 1998
hingga sekarang memiliki nilai nol dalam hal terjangkitnya DB dikarenakan adanya system
monitoring jentik demam berdarah setiap 6 bulan sekali. Contoh lain di Palembang, puskesmas
yang ada di sana mulai mengembangbiakkan ikan cupang sebagai pemakan jentik nyamuk DB.
Pemerintah dalam hal ini juga perlu melakukan monitoring mungkin setiap 6 bulan sekali
atau bahkan ketika musim hujan tiba. Selain itu juga lebih banyak memberikan himbauan kepada
masyarakat dan membuat iklan layanan masyarakat untuk turut berpartisipasi langsung
memberantas DB. Di lingkungan keluarga kita juga perlu dilaksanakan kerja bakti minimal
setiap 2 minggu sekali untuk membersihkan lingkungan rumah dari adanya air tergenang,
menguras bak mandi secara teratur, mengubur kaleng-kaleng dan ban bekas serta yang lainnya.
Sudahkah kita melakukan hal tersebut ?