Asal Usul Batubara
|
Saat ini, minyak dan gas menjadi salah satu kebutuhan manusia. Contohnya minyak tanah.
Minyak tanah sering digunakan untuk keperluan rumah tangga terutama memasak. Selain
itu ada gas elpiji yang fungsinya juga bisa untuk memasak dan juga bisa sebagai
bahan bakar kendaraan bermotor. Nah, selain minyak tanah dan gas, ada yang namanya
batubara. Saat ini batubara menjadi alternatif sumber energi karena minyak dan
gas termasuk dalam sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui yang nantinya
lama kelamaan akan habis. Kira-kira bagaimana ya, awal ditemukannya batubara dan
penggunaannya ? Teman-teman mau tahu? Silahkan baca terus kelanjutan artikel ini.
Sejarah Batubara
Beberapa ahli sejarah meyakini bahwa batubara pertama kali digunakan secara
komersial di Cina. Ada laporan yang menyatakan bahwa suatu tambang di timur laut
Cina menyediakan batu bara untuk mencairkan tembaga dan untuk mencetak uang
logam sekitar tahun 1000 SM. Bahkan petunjuk paling awal tentang batubara ternyata
berasal dari filsuf dan ilmuwan Yunani yaitu Aristoteles, yang menyebutkan adanya
arang seperti batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan bangunan bangsa
Romawi di Inggris juga menunjukkan bahwa batubara telah digunakan oleh bangsa
Romawi pada tahun 400 SM.
Catatan sejarah dari Abad Pertengahan memberikan bukti pertama penambangan batu
bara di Eropa, bahkan suatu perdagangan internasional batu bara laut dari
lapisan batu bara yang tersingkap di pantai Inggris dikumpulkan dan diekspor
ke Belgia. Selama Revolusi Industri pada abad 18 dan 19, kebutuhan akan
batubara amat mendesak. Penemuan revolusional mesin uap oleh James Watt,
yang dipatenkan pada tahun 1769, sangat berperan dalam pertumbuhan penggunaan
batu bara. Oleh karena itu, riwayat penambangan dan penggunaan batu bara
tidak dapat dilepaskan dari sejarah Revolusi Industri, terutama terkait
dengan produksi besi dan baja, transportasi kereta api dan kapal uap.
Namun tingkat penggunaan batubara sebagai sumber energi primer mulai berkurang
seiring dengan semakin meningkatnya pemakaian minyak. Dan akhirnya, sejak
tahun 1960 minyak menempati posisi paling atas sebagai sumber energi primer
menggantikan batubara. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa batubara
akhirnya tidak berperan sama sekali sebagai salah satu sumber energi primer.
Krisis minyak pada tahun 1973 menyadarkan banyak pihak bahwa ketergantungan
yang berlebihan pada salah satu sumber energi primer, dalam hal ini minyak,
akan menyulitkan upaya pemenuhan pasokan energi yang kontinyu. Selain itu,
labilnya kondisi keamanan di Timur Tengah yang merupakan produsen minyak
terbesar juga sangat berpengaruh pada fluktuasi harga maupun stabilitas
pasokan. Keadaan inilah yang kemudian mengembalikan pamor batubara sebagai
alternatif sumber energi primer, disamping faktor-faktor berikut ini:
- Cadangan batubara sangat banyak dan tersebar luas.
Diperkirakan terdapat lebih dari 984 milyar ton cadangan batubara terbukti
di seluruh dunia yang tersebar di lebih dari 70 negara. Dengan perkiraan
tingkat produksi pada tahun 2004 yaitu sekitar 4.63 milyar ton per tahun
untuk produksi batubara keras (hard coal) dan 879 juta ton per tahun
untuk batubara muda (brown coal), maka cadangan batubara diperkirakan dapat
bertahan hingga 164 tahun. Sebaliknya, dengan tingkat produksi pada
saat ini, minyak diperkirakan akan habis dalam waktu 41 tahun, sedangkan
gas adalah 67 tahun. Disamping itu, sebaran cadangannya pun terbatas,
dimana 68% cadangan minyak dan 67% cadangan gas dunia terkonsentrasi
di Timur Tengah dan Rusia.
- Negara-negara maju dan negara-negara berkembang terkemuka
memiliki banyak cadangan batubara.
Berdasarkan data dari BP Statistical Review of Energy 2004, pada tahun
2003, 8 besar negara-negara dengan cadangan batubara terbanyak adalah
Amerika Serikat, Rusia, China, India, Australia, Jerman, Afrika Selatan, dan
Ukraina.
- Batubara dapat diperoleh dari banyak sumber di pasar dunia
dengan pasokan yang stabil.
- Harga batubara yang murah dibandingkan dengan minyak dan gas.
- Batubara aman untuk ditransportasikan dan disimpan.
- Batubara dapat ditumpuk di sekitar tambang, pembangkit listrik,
atau lokasi sementara.
- Teknologi pembangkit listrik tenaga uap batubara sudah teruji dan handal.
- Kualitas batubara tidak banyak terpengaruh oleh cuaca maupun hujan.
- Pengaruh pemanfaatan batubara terhadap perubahan lingkungan sudah dipahami
dan dipelajari secara luas, sehingga teknologi batubara bersih
dapat dikembangkan dan diaplikasikan.
Pembentukan Batubara
Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan
purba yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan
kimia yang berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk
dalam kategori bahan bakar fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan
menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan (coalification).
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi
dan lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan
(sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan
geologi yang berlangsung kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang
jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda
sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisannya (coal seam).
Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon
(Carboniferous Period) --dikenal sebagai zaman batu bara pertama-- yang
berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Kualitas dari
setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu
pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses awalnya,
endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang selanjutnya berubah
menjadi batu bara muda (lignite) atau disebut pula batu bara coklat (brown coal).
Batubara muda adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah.
Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama
jutaan tahun, maka batu bara muda akan mengalami perubahan yang secara
bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu
bara sub-bituminus (sub-bituminous). Perubahan kimiawi dan fisika terus
berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebih hitam
sehingga membentuk bituminus (bituminous) atau antrasit (anthracite).
Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi
terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan
perubahan konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara.
Batubara yang berkualitas tinggi umumnya akan semakin keras dan kompak,
serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Selain itu, kelembabannya pun
akan berkurang sedangkan kadar karbonnya akan meningkat, sehingga kandungan
energinya juga semakin besar.
Sumber :
beritaiptek.com
|
|