Ilmu astronomi setiap waktu terus berkembang. Seiring perkembangannya, banyak penemuan-penemuan baru
peristiwa alam yang terjadi di ruang angkasa. Salah satunya, yang belum lama ditemukan, adalah Black Hole
(lubang hitam). Lubang hitam terbentuk ketika sebuah bintang yang telah menghabiskan seluruh bahan bakarnya
ambruk hancur ke dalam dirinya sendiri, dan akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan
tak hingga dan volume nol serta medan magnet yang amat kuat.
Kita tidak mampu melihat Black Hole dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan gravitasi lubang hitam
tersebut sedemikian kuatnya. Sebelumnya para astronom sudah melihat bagaimana Black Hole menyedot gas
yang beterbangan di sekitarnya, lalu memanaskan gas tersebut sehingga memancarkan radiasi dalam
berbagai panjang gelombang, mulai dari gelombang radio hingga gelombang cahaya tampak dan sinar-X.
Mereka juga memperkirakan bahwa sebuah bintang sekalipun bisa terkoyak karena daya tarik gravitasi
sebuah Black Hole. Bukti terbaru memotret fenomena ini. Berdasarkan pengamatan dari tiga teleskop
ruang angkasa sinar-X selama lebih dari satu dekade, para astronom melihat sebuah bintang yang terlempar
mendekati pusat sebuah galaksi akibat kedekatan posisinya dengan bintang lain. Dalam perjalanannya
menempuh jalur tersebut, ia mendekati sebuah Black Hole raksasa yang massanya setara dengan 100 juta
kali massa Matahari, lalu tersedot ke dalam lubang hitam itu.
"Bintang itu sesungguhnya bisa selamat bila hanya terhisap sebagian, misalnya gasnya saja," ujar
Stefanie Komossa, astronom di Max Planck Institute for Extraterrestrial Physics, Jerman.
"Namun dalam peristiwa ini ia terhisap seluruhnya." Black Hole raksasa yang menyedotnya berada dekat
pusat galaksi RX J1242-11. Jaraknya sekitar 700 juta tahun cahaya dari bumi. Sementara bintang yang
dihisapnya seukuran matahari. Ia terkoyak-koyak dan terhisap selama beberapa hari.
Teori Lubang Hitam pertama kali diperkenalkan oleh astronom Jerman bernama Karl Schwarzschild,
pada tahun 1916, dengan berdasar pada teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan semakin
dipopulerkan oleh Stephen William Hawking. Pada saat ini banyak astronom yang percaya bahwa hampir
semua galaksi dialam semesta ini mengelilingi lubang hitam pada pusat galaksi.Istilah Black Hole
pertama kali digunakan tahun 1969 oleh fisikawan Amerika John Wheeler. Awalnya, kita beranggapan bahwa
kita dapat melihat semua bintang. Akan tetapi, belakangan diketahui bahwa ada bintang-bintang di
ruang angkasa yang cahayanya tidak dapat kita lihat. Sebab, cahaya bintang-bintang yang runtuh ini lenyap.
Cahaya tidak dapat meloloskan diri dari sebuah lubang hitam disebabkan lubang ini merupakan massa
berkerapatan tinggi di dalam sebuah ruang yang kecil. Gravitasi raksasanya bahkan mampu menangkap
partikel-partikel tercepat, seperti foton (partikel cahaya). Misalnya, tahap akhir dari sebuah bintang
biasa, yang berukuran tiga kali massa Matahari, berakhir setelah nyala apinya padam dan mengalami
keruntuhannya sebagai sebuah lubang hitam bergaris tengah 'hanya' 20 kilometer.
Black Hole yang terbentuk itu berwarna hitam, yang berarti tertutup dari pengamatan langsung.
Namun demikian, keberadaan lubang hitam ini diketahui secara tidak langsung, melalui daya hisap
raksasa gaya gravitasinya terhadap benda-benda langit lainnya.
Selain itu, bintang-bintang bermassa besar juga menyebabkan terbentuknya lekukan-lekukan yang dapat
ditemukan di ruang angkasa. Namun, Black Hole tidak hanya menimbulkan lekukan-lekukan di ruang
angkasa tapi juga membuat lubang di dalamnya. Itulah mengapa bintang-bintang runtuh ini dikenal sebagai lubang hitam.
Sedikit cahaya
Para peneliti menemukan, lubang hitam ini lebih banyak menghasilkan energi dalam bentuk pancaran.
Kapasitasnya mencapai 1.000 kali lebih besar daripada energi dalam bentuk cahaya.
"Itulah misterinya, bagaimana lubang hitam ini mengatur energi yang dihasilkan agar lebih banyak
pancaran daripada cahaya," kata salah satu penelitinya Christopher Reynolds dari Universitas Maryland.
Meskipun demikian, belum dapat dipastikan mengapa demikian.
Energi yang dipancarkan lebih banyak dalam bentuk gelombang radio, namun setidaknya ada sebuah lubang
hitam yang menghasilkan energi dalam bentuk sinar-X. "Energi yang dipancarkan sungguh besar hingga
triliunan watt," kata Allen.
Saat menjalar dari pusat lubang hitam secepat cahaya, pancaran energi membentuk rongga atau gelembung
energi pada lingkungan gas di sekitarnya. Beberapa gelembung energi ini mungkin mengembang hingga
puluhan ribu tahun cahaya.
Gelembung ini juga dapat dibentuk oleh ledakan bintang yang disebut supernova. Sistem tata surya kita
juga dibungkus struktur serupa disebut Gelembung Lokal yang terbentuk akibat ledakan di masa lalu.
Para peneliti menggunakan gelembung-gelembung ini untuk mengukur efisiensi lubang hitam. Menggunakan
citra rekaman Chandra, mereka menghitung seberapa banyak bahan bakar gas yang dipakai setiap lubang
hitam. Dari sana, mereka dapat memperkirakan energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan gelembung-gelembung tersebut.
Lubang hitam Menjaga bentang galaksi
Proses ini tentu saja berlaku juga pada jenis lubang hitam lainnya, misalnya lubang hitam massa
stellar yang ukurannya lebih kecil.
"Kami telah mengetahui sebelumnya bahwa quasar sangat efisien dalam menghasilkan cahaya. Sekarang,
kami juga mengetahui bahwa lubang hitam di galaksi yang berbentuk elips juga seefisien itu," kata
Kim Weaver, seorang peneliti di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA. Menurutnya, hal ini menunjukkan
bahwa seluruh lubang hitam mungkin memiliki ciri yang sama, yaitu sebagai sumber energi hijau.
Sifat ramah lingkungan lubang hitam raksasa juga dapat ditinjau dari sisi lain. Energi yang dipancarkan
setiap lubang hitam menghangatkan lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut dapat mencegah pendinginan dan
menyatunya gas membentuk miliaran bintang-bintang baru. Artinya, proses ini mencegah galaksi berkembang
terlalu cepat.
"Dalam kacamata lingkungan, lubang hitam akan menjaga bentang galaksi agar tidak menyerobot lingkungan
sekitarnya," kata Weaver. Penelitian tersebut akan dipublikasikan dalam Monthly Notices of the Royal
Astronomical Society edisi terbaru.
Diatas tadi sudah dijelaskan bahwa lubang hitam tidak mungkin diamati secara visual. Namun demikian,
secara tidak langsung para astronom juga dapat melihat indiksi keberadaannya. Saat materi berupa gas
jatuh kedalam lubang hitam (kemungkinan berasal dari bintang yang terdekat), gas tersebut akan memanas
dan berpijar, sehingga dapat "terlihat". Terlihat dalam tanda kutip, karena bukan dalam bentuk cahaya
yang bisa dilihat secara visual, melainkan berupa foton yang berenergi tinggi seperti halnya sinar X.
Apa yang mungkin terlihat dari sebuah lubang hitam melalui teleskop adalah sebuah cakram materi
yang berputar seraya berpijar dengan lubang hitam berada di pusatnya.
Ukuran lubang hitam
Lantas berapa ukuran sebuah lubang hitam? Tidak ada batasan seberapa besar sebuah lubang hitam dapat
terbentuk. Lubang hitam yang diperkirakan ada di pusat galaksi memiliki masa yang ekuivalen
dengan 1 miliar kali massa Matahari dengan pancaran radiasi setara dengan jari-jari dari tata surya
kita. Sebaliknya, lubang hitam juga bisa berukuran sangat kecil. Menurut teori relativitas umum,
juga tidak ada batasan seberapa kecil ukuran sebuah lubang hitam. Tetapi, berdasarkan teori gravitasi
dan mekanika kuantum serta beberapa teori lain yang sedang dikembangkan, diperoleh petunjuk bahwa
lubang hitam tidak mungkin memiliki jari-jari (radius) lebih kecil daripada 10 pangkat -33 cm atau
0.000000000000000000000000000000001 cm.
Sumber :
Website Pengetahuan Umum - Harun Yahya
Wikipedia Indonesia
Kompas