Matahari mulai terbenam ketika Pak Reo sedang membereskan peralatan pancingnya.
Singa jantan yang rajin itu telah menghabiskan waktu seharian dengan memancing
di telaga yang terletak di tengah hutan. “Ikan ini begitu besar!, Reno, anakku
pasti senang!” seru Pak Reo gembira. “Lihat Reno! Ayah dapat ikan besar!”
teriak Bu Reo, yang sedang menggiring itik ke kandang. “Wow besar sekali
ikannya!” teriak Reno kegirangan. Singa kecil itu memang suka sekali makan
ikan. Ibu segera membawa ikan ke dapur untuk dimasak.
“Ah, andai aku juga bisa memancing ikan sendiri,”pikir Reno. Tanpa sepengetahuan
orangtuanya, Reno segera mengambil peralatan pancing ayahnya. “Kalau ayah
bisa mendapat ikan besar, mengapa aku tidak?” kata Reno pada dirinya sendiri.
Lalu ia pergi menuju telaga di hutan, walaupun belum tahu tempatnya. Di tengah
perjalanan, Reno bertemu dengan Paman Kambing yang sedang asyik memetik mangga
di pinggir jalan. “Hallo Reno, sore-sore mau pergi ke mana?” sapa Paman
Kambing ramah. Tapi Reno hanya menundukkan kepala dan tidak menjawab sapaan
Paman Kambing. “Huh, tidak sopan!” gerutu Paman Kambing kesal.
“Disapa baik-baik, kok diam saja. Tersenyum pun tidak! Benar-benar
keterlaluan!”
Hari semakin gelap. Tapi Reno terus berjalan. Yang dipikirkannya hanya
ikan dan ikan. “Wow, pasti asyik kalau dapat mancing ikan yang lebih besar
dari milik ayah,” pikir Reno. Sementara itu, kedua orangtua Reno belum
mengetahui bahwa anaknya telah pergi meninggalkan rumah. “Reno di
mana, Bu?” tanya pak Reo. Istrinya yang sedang memasak ikan terkejut.
“Lho, bukankah tadi bersama Ayah?” Bu Reo balik bertanya. “Tidak,” jawab
Pak Reno sambil menggelengkan kepala. “Aduh, di mana si Reno? Hari
sudah malam, tidak seharusnya ia bermain di luar rumah.” Singa betina
itu bingung memikirkan anak kesayangannya. “Sudahlah, Bu,” kata Pak
Reo menenangkan. “Lebih baik kita segera mencarinya. Lagipula, Reno
sudah besar. Nanti pasti pulang sendiri.”
Bagaimana nasib Reno? Kasihan anak singa itu tersesat di tengah hutan.
Dia tidak tahu jalan ke arah telaga. “Letak telaga di mana sih?” pikir
Reno bingung. “Aduh, sudah malam dan gelap lagi. Aku di mana sekarang?”
Ternyata binatang malang itu kini berada di bagian hutan yang belum
pernah dijelajahinya. Reno takut sekali. Dia mulai menyesali
perbuatannya. “Ah, kalau saja aku tadi bertanya ke Paman Kambing,
mungkin aku tak akan tersesat.”
Malam semakin larut. Yang terdengar hanya bunyi jangkrik yang bernyanyi
di kesunyian malam. Reno semakin takut dan bingung. Kakinya terasa
pegal. Dan perutnya keroncongan karena lapar. “Klepak! Klepak! Klepak!”
tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap. Reno terkejut sekali. Dia
mendongakkan kepalanya. Oh, ternyata ada seekor burung yang hinggap
di atas pohon, tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Apakah kau bernama Reno, anak Pak Reo?” Tanya burung itu. “Sepertinya
kita pernah bertemu kan?” Reno merasa lega, karena tak lagi sendirian
di hutan. Singa kecil itu lalu menerangkan apa yang dialaminya. “Hmm,
sebaiknya kau bermalam saja di hutan,” saran si burung. “Tapi
jangan khawatir. Aku akan menemanimu tidur malam ini. Dan besok, kau
pasti kuantar pulang.” Akhirnya anak singa itu tertidur di bawah
pohon dengan beralas dedaunan.
Di rumah, Pak Reo dan istrinya masih bingung dimana harus mencari anak
kesayangannya. Mereka telah mencari ke mana-mana tapi belum juga ketemu.
“Bagaimana ini, Yah? Reno belum kembali,” kata Bu Reo dengan sedih.
“Reno, pulanglah Nak. Ibu sayang padamu.” Pak Reo berusaha menenangkan
istrinya.”Sudahlah, Bu. Kita tak mungkin mencari Reno saat gelap begini.
Semoga besok Reno bisa pulang dengan selamat.”
Pak Reo menutup pintu dan jendela rumah, lalu keduanya berdoa bersama
dan menunggu datangnya pagi dengan berbaring di depan perapian. Dalam
tidurnya di tengah hutan, Reno bermimpi bertemu dengan seorang kakek.
Orang tua itu terlihat pintar dan bijaksana. “Reno cucuku,” suara kakek
itu terdengar lembut. “Tahukah apa yang kau lakukan? Kau begitu egois,
hanya memikirkan dirimu sendiri. Pertama, kau pergi meninggalkan rumah
tanpa pamit. Kedua, kau tidak sopan karena tidak peduli pada binatang
lain yang menyapamu. Dan ketiga, kau malu bertanya hingga tersesat
di tengah hutan. Itu tidak baik, cucuku, kau harus mengubah sifat-sifatmu
yang buruk itu.”
“Kukuruyuk! Kukuruyuk!” sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok.
“Cicit cuwit…! Cicit cuwit…!” suara kicau burung saling bersahutan,
menyambut datangnya pagi hari. Reno terbangun mendengar kicauan merdu
itu. “Ah, nyenyak sekali tidurku,” kata Reno sambil meregangkan kaki
dan badannya. “Tapi semalam aku mimpi bertemu dengan seorang kakek.”
Singa kecil itu kembali berbaring sambil memikirkan mimpinya. “Hmm, apa
yang dikatakan kakek itu memang benar,” kata Reno pada dirinya sendiri.
“Betapa buruknya kelakuanku. Aku egois, hanya memikirkan diri sendiri.
Aku begitu ingin mendapatkan ikan besar, sampai melupakan segalanya.
Aku harus mengubah sikapku yang jelek ini.”
“Selamat pagi, Reno,” sapa burung yang tidur di atas pohon. “Oh, selamat
pagi, Burung,” sahut Reno terkejut. Reno segera bangkit berdiri.
“Sudah siap untuk pulang? Ayo, kuantar kau pulang.” Burung yang baik
hati itu terbang mengepakkan sayapnya. Reno berlari-lari mengikuti
di bawahnya. Betapa senang hatinya! Beberapa ekor burung turut
terbang mengikuti mereka. Binatang-binatang hutan yang melihat rombongan
itu tertarik. Mereka lalu berlari mengikuti Reno dan teman-temannya.
“Itu rumahmu, Reno!” teriak si burung sambil menunjuk dengan sayapnya.
Singa kecil itu berlari mendahului teman-temannya. Ternyata orangtua Reno
sudah menunggu di depan rumah. “Oh, Reno anakku saying,” kata Bu
Reo gembira sambil memeluk anaknya. “Maafkan Reno, Bu,” jawab Reno
dengan nada menyesal. “Reno telah menyusahkan Ayah dan Ibu.” “Benar kan
Bu omonganku. Anak kita pasti kembali!” kata Pak Reo gembira. “Hei
kalian teman main Reno, ya? Ayo masuk dulu, kalian pasti lapar.” kata
bu Reo. Sebagai tanda terimakasih, Bu Reo menjamu binatang-binatang
itu dengan memasak makanan yang lezat.
Pesan moral : Janganlah bersikap egois dan tidak mempedulikan lingkungkan sekitar,
karena akan merugikan diri kita sendiri.
Sumber : Serial Fabel Indonesia, Elexmedia